TRASNCO INDONESIA

TRASNCO INDONESIA

TRASNCO INDONESIA


Transformasi Peran PR di Era Digital, dari Media Relation ke Narrative Leadership

Posted by: 25-03-2026 09:38 WIB

-

Transformasi Peran PR di Era Digital, dari Media Relation ke Narrative Leadership
-

INFOBRAND.ID – Sekretaris Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) sekaligus Direktur Utama LKBN Antara, Benny Siga Butarbutar, menekankan bahwa kepercayaan (trust) menjadi fondasi utama komunikasi di era digital yang semakin kompleks dan dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam seminar yang dihadiri praktisi komunikasi dan Public Relations (PR), Benny menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, sementara faktor penentu utama tetap berada pada kepemimpinan komunikasi yang beretika dan konsisten.

Menurut Benny, perkembangan globalisasi dan teknologi digital telah menciptakan kompleksitas baru dalam arus informasi. Hal tersebut membuat krisis komunikasi dapat muncul jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu krisis bisa terjadi dalam rentang waktu bertahun-tahun, kini eskalasi krisis dapat muncul hanya dalam hitungan menit karena percepatan distribusi informasi di media sosial dan ekosistem digital.

“AI itu hanya alat bantu. Dia membantu kita mempercepat proses klarifikasi, analisis, dan perencanaan. Tapi penentunya tetap manusia—khususnya kepemimpinan komunikasi yang memiliki integritas dan pengalaman,” ujar Benny, dalam seminarnya yang disampaikan dalam kegiatan The 36th INFOBRAND FORUM, yang digelar INFOBRAND.ID, di Ballroom Sheraton Grand Hotel Gandaria City, Jakarta, Rabu (4/2/2026). 

Ia menjelaskan bahwa dalam lanskap komunikasi modern, algoritma telah mengambil peran sebagai “gatekeeper” baru yang menentukan informasi apa yang muncul dan dipercaya publik. Kondisi ini membuat praktisi PR tidak lagi sekadar mengelola eksposur media melalui press release, foto, atau video, tetapi harus mampu mengelola sistem komunikasi secara menyeluruh dalam ekosistem algoritmik.

“PR tidak lagi hanya mengelola pesan, tetapi mengelola stabilitas makna dalam ekosistem informasi. Ini berarti teks, foto, video, hingga infografis harus dikelola secara strategis agar narasi yang dibangun tetap konsisten dan dipercaya,” katanya.

Benny juga menyoroti pentingnya transformasi peran komunikasi dari sekadar aktivitas menjelaskan menjadi komunikasi kepemimpinan (leadership communication). Dalam perspektif ini, komunikasi tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga mampu memengaruhi, membangun kepercayaan, serta mendorong perubahan.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi kepemimpinan memiliki dua fungsi utama, yakni membangun narasi yang bermakna serta mendorong transformasi organisasi atau institusi. Tanpa dua hal tersebut, komunikasi hanya akan berhenti pada aktivitas penyampaian informasi yang tidak berdampak strategis.

“Semua orang bisa menjelaskan, tetapi tidak semua orang bisa meyakinkan. Pada level kepemimpinan, komunikasi harus mampu memengaruhi dan menggerakkan,” ungkapnya.

Dalam pengalamannya selama lebih dari dua dekade sebagai jurnalis serta berkarier di berbagai industri, mulai dari media, penerbangan, hingga sektor pangan, Benny menilai bahwa kepercayaan tidak dapat dibangun secara instan. Trust hanya dapat tercipta melalui konsistensi tindakan dan integritas dalam mengambil keputusan.

Ia mencontohkan bagaimana institusi atau perusahaan dapat memulihkan reputasi melalui kepemimpinan yang menekankan keunggulan (excellence) sekaligus kepedulian (care). Kedua aspek tersebut, menurutnya, harus berjalan beriringan agar organisasi mampu membangun kredibilitas yang berkelanjutan di mata publik.

“Keunggulan tanpa kepedulian akan terasa dingin, sementara kepedulian tanpa keunggulan juga tidak cukup. Trust lahir dari kombinasi keduanya,” jelas Benny.

Lebih lanjut, Benny juga mengingatkan bahwa banyak praktisi PR di Indonesia masih menghadapi sejumlah kelemahan mendasar, seperti kurangnya kemampuan dalam strategic planning, perencanaan kampanye komunikasi, serta pemahaman media sebagai institusi strategis. Akibatnya, fungsi komunikasi sering kali hanya bersifat reaktif atau sekadar menjadi “pemadam kebakaran” ketika krisis terjadi.

Padahal, menurutnya, komunikasi yang efektif seharusnya bersifat prediktif dengan perencanaan yang matang sepanjang tahun, termasuk memetakan potensi krisis dan menyusun strategi mitigasi sejak awal.

“PR harus bergerak dari reactive communication menuju predictive communication. Artinya kita harus mampu membaca tren, memetakan risiko, dan menyiapkan narasi sebelum krisis terjadi,” katanya.

Dalam konteks perkembangan teknologi, Benny menilai penggunaan AI justru dapat memperkuat kepercayaan jika dilakukan secara transparan. Ia mendorong praktisi komunikasi untuk terbuka mengenai penggunaan teknologi tersebut sekaligus memastikan bahwa nilai, etika, dan identitas organisasi tetap menjadi landasan utama dalam setiap strategi komunikasi.

“Teknologi harus selaras dengan nilai. AI tidak boleh menghilangkan identitas kita. Justru teknologi harus membantu memperkuat value yang kita miliki,” tegasnya.

Pada akhirnya, Benny menekankan bahwa trust tidak dapat dibangun tanpa keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan memegang teguh etika profesional. Ia menyebut bahwa etika merupakan elemen penting dalam kepemimpinan komunikasi karena publik akan menilai integritas pemimpin dari keputusan yang diambil, terutama dalam situasi sulit.

“Trust itu tidak mudah dibangun. Ia lahir dari tanggung jawab, konsistensi, dan keberanian memegang etika,” tutup Benny.

Melalui diskusi tersebut, Benny berharap para praktisi komunikasi dan PR di Indonesia dapat meningkatkan kapasitas profesionalnya, tidak hanya dalam pemanfaatan teknologi digital, tetapi juga dalam membangun kepemimpinan komunikasi yang mampu menjaga kepercayaan publik di tengah perubahan lanskap informasi global.

Sumber  :  https://infobrand.id/transformasi-peran-pr-di-era-digital-dari-media-relation-ke-narrative-leadership.phtml