Mengenal Model PRO-BRAND: Enam Langkah Strategis Akademisi dan Praktisi dalam Membangun Ekuitas Merek
Posted by: Admin 19-08-2026 09:17 WIB
-
-
INFOBRAND.ID — Di tengah persaingan bisnis modern yang kian dinamis dan terdigitalkan, keberadaan merek (brand) bukan sekadar identitas visual atau pembeda dari kompetitor. Merek telah bertransformasi menjadi aset tak berwujud (intangible asset) paling bernilai yang menentukan daya saing serta keberlanjutan sebuah bisnis. Memahami pentingnya tata kelola merek yang terstruktur, gabungan akademisi dan praktisi branding dari Indonesia dan Malaysia merumuskan sebuah kerangka kerja komprehensif yang dinamakan Model PRO-BRAND.
Tim penyusun model ini melibatkan tokoh-tokoh berpengalaman di bidang akademis dan riset merek, antara lain Prof. Dr. Gancar C. Premananto, Assoc. Prof. Dr. Siti Zaleha Sahak, Assoc. Prof. Dr. Masmira Kurniawati, serta Tri Raharjo, MM. Akronim PRO-BRAND merangkum enam tahapan taktis yang dirancang sebagai panduan praktis bagi para pemasar, pelaku usaha, hingga pengambil kebijakan dalam memformulasikan dan menguatkan ekuitas merek secara berkelanjutan.
Berikut adalah penjelasannya:
1. Profiling Positioning (P)
Tahap awal ini berperan sebagai fondasi strategis. Organisasi diajak untuk membedah pasar melalui analisis mendasar: Segmentation, Targeting, dan Positioning (STP).
Segmentasi & Targeting: Mengidentifikasi kelompok konsumen berdasarkan karakteristik homogen, dilanjutkan dengan memilih segmen sasaran yang paling potensial.
Positioning & Value Proposition: Merumuskan points of difference (poin keunikan) agar merek menduduki ruang khusus di benak pelanggan. Tahap ini menjawab pertanyaan krusial: mengapa konsumen harus memilih merek ini dibanding pesaing?
Luaran utama dari fase ini adalah terbentuknya identitas merek mencakup target market, positioning statement, brand values, hingga brand personality.
2. Building Awareness (R)
Setelah fondasi positioning selesai dirancang, langkah selanjutnya adalah menerjemahkannya ke dalam persepsi pasar melalui peningkatan keterkenalan merek.
Integrated Marketing Communication (IMC): Penggunaan komunikasi pemasaran terpadu di seluruh touchpoint konsumen (media sosial, iklan, hubungan masyarakat, influencer, hingga event) guna memastikan pesan yang disampaikan konsisten.
Top-of-Mind: Keberhasilan tahap ini diukur dari brand recall dan brand recognition, yakni sejauh mana merek menjadi pilihan utama yang paling diingat saat kebutuhan konsumen muncul pada kategori produk terkait.
3. Operational Protection (O)
Tahap ketiga memfokuskan perhatian pada aspek perlindungan dan konsistensi. Membangun merek tanpa perlindungan yang memadai berisiko mengancam kelangsungan bisnis di masa depan.
Perlindungan Hukum (IPR): Melakukan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual mencakup merek dagang, logo, slogan, hingga aset digital.
Pengelolaan Reputasi: Menjaga kualitas produk/layanan secara konsisten serta menyiapkan mitigasi krisis komunikasi guna melindungi reputasi merek dari isu negatif.
4. Assessment Equity (A)
Merek yang telah berjalan membutuhkan evaluasi berkala untuk mengukur nilai dan kekuatannya. Tahap Assessment Equity memvalidasi sejauh mana aktivitas komunikasi dan pemasaran berhasil memberikan hasil nyata.
Indikator Pengukuran: Mengukur performa berdasarkan aspek brand awareness, perceived quality (persepsi kualitas), brand association, kepuasan pelanggan, loyalitas, hingga perhitungan nilai finansial merek.
Dasar Inovasi: Hasil dari asesmen ini menjadi rujukan utama untuk menutup celah kekurangan dan merumuskan perbaikan strategi secara objektif.
5. Nurturing Growth (N)
Memiliki ekuitas merek yang tinggi tidak berarti perusahaan boleh berpuas diri. Pada tahap ini, fokus dialihkan pada pembinaan dan pengembangan ekosistem bisnis agar terus bertumbuh.
Retensi & Inovasi: Memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholders), memelihara loyalitas pelanggan melalui program retensi dan komunitas, serta menghadirkan inovasi lini produk/layanan.
Brand Tracking: Pelaksanaan brand tracking secara periodik sangat dipersyaratkan di tahap ini untuk memantau kesehatan merek dari waktu ke waktu.
6. Develop Future (D)
Fase pamungkas dalam kerangka PRO-BRAND berorientasi pada keberlanjutan masa depan merek di tengah disrupsi industri dan perubahan zaman.
Antisipasi Disrupsi: Melakukan foresight analysis untuk mengantisipasi pergeseran perilaku konsumen, tren teknologi baru, serta dinamika regulasi.
Transformasi & Keberlanjutan: Mendorong transformasi digital, perluasan ke pasar baru, melakukan rebranding jika relevansi mulai menurun, serta mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability).