TRASNCO INDONESIA

TRASNCO INDONESIA

TRASNCO INDONESIA


Branding for Goodness, Positioning for CSR: Strategi Membangun Brand Melalui Kebaikan dan Dampak Sosial

Posted by: 22-10-2026 08:53 WIB

-

Branding for Goodness, Positioning for CSR: Strategi Membangun Brand Melalui Kebaikan dan Dampak Sosial
-

INFOBRAND.ID - Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap tanggung jawab sosial perusahaan, branding tidak lagi cukup dibangun melalui kualitas produk, kekuatan komunikasi pemasaran, maupun popularitas merek. Perusahaan perlu menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan agar brand memiliki makna yang lebih dalam di mata konsumen dan pemangku kepentingan.

Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan INDONESIA CORPORATE FORUM 2026, melalui seminar bertajuk “Branding for Goodness, Positioning for CSR” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Gancar C. Premananto, Koordinator Bidang Pemasaran Airlangga Enterprises, Universitas Airlangga.

Materi seminar ini menyoroti pentingnya menghubungkan kekuatan merek dengan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), sekaligus menempatkan kebaikan sebagai bagian dari strategi membangun reputasi dan keberlanjutan bisnis.

CSR Bukan Sekadar Program Sosial

Dalam praktik bisnis modern, program sosial perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan nilai strategis ketika dirancang secara terintegrasi dengan identitas dan positioning merek. Artinya, CSR tidak hanya menjadi aktivitas untuk memenuhi kewajiban sosial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari cara perusahaan membangun hubungan dengan konsumen dan masyarakat.

Materi seminar menampilkan sejumlah contoh program sosial perusahaan global yang dikaitkan dengan nama merek, seperti program keberlanjutan kopi dan kakao, pemberdayaan perempuan, edukasi kebersihan, pengurangan sampah kemasan, hingga akses pangan dan air bersih.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana merek dapat menjadi penghubung antara perusahaan, program sosial, dan masyarakat yang menjadi penerima manfaat. Ketika sebuah program memiliki identitas yang jelas dan konsisten, dampaknya lebih mudah dikenali, diingat, serta dibagikan kepada publik.

Program sosial yang memiliki nama dan keterkaitan kuat dengan merek juga berpotensi menjadi aset reputasi jangka panjang. Dengan demikian, aktivitas sosial tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi berkembang menjadi bagian dari cerita dan nilai yang melekat pada brand.

Membangun Nilai Melalui Creating Shared Value

Pembahasan juga mengangkat konsep Creating Shared Value (CSV), yaitu pendekatan yang menempatkan penciptaan nilai sosial dan nilai bisnis dalam satu kerangka strategis.

Melalui pendekatan ini, perusahaan didorong untuk melihat persoalan sosial bukan semata-mata sebagai masalah di luar aktivitas bisnis, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan manfaat bersama. Program yang dirancang dengan baik dapat membantu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat relevansi perusahaan di tengah lingkungan bisnisnya.

Karena itu, program CSR dan CSV perlu memiliki tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan pemangku kepentingan, serta dapat dievaluasi berdasarkan manfaat yang dihasilkan. Keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah kegiatan yang terlaksana atau besarnya anggaran yang dikeluarkan, tetapi juga dari perubahan dan manfaat yang dirasakan penerima program.

Dalam konteks branding, keterhubungan antara program sosial dan identitas merek dapat memperkuat kredibilitas perusahaan. Namun, nilai tersebut perlu dibangun melalui kontribusi yang nyata dan konsisten, bukan hanya melalui komunikasi atau kampanye pemasaran.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Aktivitas

Salah satu tantangan dalam pengelolaan program keberlanjutan adalah memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan benar-benar menghasilkan manfaat. Untuk itu, pengukuran dampak menjadi bagian penting dalam menilai efektivitas program sosial perusahaan.

Materi seminar memperkenalkan pendekatan Social Return on Investment (SROI) melalui metode berbasis pemangku kepentingan atau Stakeholder-Based Method. Pendekatan ini mencakup identifikasi pemangku kepentingan, eksplorasi manfaat bagi masing-masing pihak, penentuan proksi finansial untuk mengonversi manfaat ke dalam nilai ekonomi, serta pengukuran SROI.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat membangun pemahaman yang lebih terstruktur mengenai manfaat yang dihasilkan program bagi para pemangku kepentingan. Pengukuran ini juga membantu perusahaan mengevaluasi apakah sumber daya yang digunakan telah menghasilkan dampak yang sepadan dengan tujuan program.

Dengan demikian, pengelolaan CSR dapat bergerak dari sekadar pelaporan aktivitas menuju evaluasi berbasis manfaat. Hasil pengukuran juga dapat menjadi bahan untuk memperbaiki rancangan program dan memperkuat akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan agenda sosialnya.

Mengintegrasikan CSR dengan Kinerja ESG

Selain CSV dan SROI, materi seminar turut menampilkan kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui dashboard indikator kinerja.

Dalam kerangka tersebut, aspek lingkungan berkaitan dengan dampak operasional terhadap alam dan kelestarian lingkungan. Aspek sosial mencakup hubungan dengan manusia, komunitas, dan pemangku kepentingan. Sementara itu, aspek tata kelola berhubungan dengan kepatuhan hukum, transparansi, dan tata kelola perusahaan.

Penggunaan indikator kinerja untuk ketiga aspek tersebut membantu perusahaan memantau perkembangan program dan mengevaluasi capaian dari waktu ke waktu. Evaluasi dapat dilakukan melalui indikator yang relevan dengan masing-masing pilar, disertai pemantauan pertumbuhan kinerja dan komposisi capaian ESG.

Bagi perusahaan, integrasi ESG dengan strategi branding memberikan landasan yang lebih kuat untuk menunjukkan bahwa komitmen keberlanjutan tidak berhenti pada pernyataan. Komitmen tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan, pelaksanaan program, indikator kinerja, dan hasil yang dapat dievaluasi.

Dalam kaitannya dengan positioning CSR, konsistensi antara nilai yang dikomunikasikan dan praktik perusahaan menjadi penting. Reputasi yang kuat lebih berpeluang terbentuk ketika publik dapat melihat hubungan antara pesan merek, tindakan perusahaan, dan manfaat yang dihasilkan.

Spiritualitas Merek dan Mindfulness

Bagian lain dari materi seminar mengangkat tema spiritualitas merek atau brand spirituality. Pembahasan ini memperluas perspektif mengenai hubungan antara merek dan nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia.

Merek tidak hanya dapat dipahami melalui atribut fungsional dan emosional, tetapi juga melalui nilai yang ingin diperjuangkan serta makna yang dibangun dalam hubungannya dengan masyarakat. Dalam konteks branding for goodness, kebaikan menjadi nilai yang perlu tercermin dalam tindakan, bukan hanya menjadi pesan komunikasi.

Materi tersebut ditutup dengan simpulan mengenai mindfulness, yang antara lain mengingatkan pentingnya menjaga pikiran, tidak berlebihan dalam memikirkan persoalan, serta tidak melupakan berbagi kebaikan ketika meningkatkan keuntungan. Pesan lainnya menekankan bahwa kebaikan yang telah dilakukan perlu disebarkan.

Pesan ini memberikan perspektif bahwa keberhasilan bisnis dan kepedulian sosial tidak harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang bertentangan. Perusahaan dapat mengejar pertumbuhan dan profitabilitas sekaligus membangun kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menempatkan Kebaikan sebagai Strategi Branding

Seminar “Branding for Goodness, Positioning for CSR” dalam INDONESIA CORPORATE FORUM 2026 memberikan perspektif bahwa tanggung jawab sosial dapat memiliki peran strategis dalam membangun merek. Program sosial yang relevan, terukur, dan konsisten berpotensi memperkuat hubungan perusahaan dengan pemangku kepentingan sekaligus menjadi bagian dari reputasi jangka panjang.

Namun, kekuatan branding berbasis kebaikan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering perusahaan menyampaikan pesan sosialnya. Hal yang lebih mendasar adalah kesesuaian antara identitas merek, tujuan program, pelaksanaan di lapangan, dan manfaat yang benar-benar dihasilkan.

Dengan menghubungkan CSR, CSV, pengukuran SROI, dan indikator ESG, perusahaan memiliki kerangka untuk mengelola kontribusi sosial secara lebih terarah dan akuntabel. Pada akhirnya, branding for goodness bukan hanya tentang bagaimana perusahaan ingin dipersepsikan, melainkan juga tentang nilai dan dampak yang sungguh-sungguh diwujudkan melalui aktivitas bisnisnya.

Sumber  :   https://infobrand.id/branding-for-goodness-positioning-for-csr-strategi-membangun-brand-melalui-kebaikan-dan-dampak-sosial.phtml